On The Road of Devoted Service for the People
On The Road of Devoted Service for the People
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

KPK Amankan 2 Mobil dari Rumah Mantan Bupati Buru Selatan, Tagop Sudarsono Soulisa

LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
  • Selasa, 01 Februari 2022, 12:37 WIB
KPK Amankan 2 Mobil dari Rumah Mantan Bupati Buru Selatan, Tagop Sudarsono Soulisa
Bupati Buru Selatan, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS)/Net
Dua unit mobil hingga dokumen aliran uang kasus dugaan suap, gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang melibatkan Bupati Buru Selatan, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS) diamankan tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Barang bukti tersebut ditemukan tim penyidik saat melakukan upaya paksa penggeledahan di beberapa lokasi di wilayah Kota Ambon, Maluku pada Senin (31/1).

"Lokasi dimaksud yaitu rumah kediaman pribadi tersangka TSS, rumah kediaman pribadi tersangka IK dan salah satu kantor milik pihak swasta yang diduga terkait dengan perkara," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Jurubicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri kepada wartawan, Selasa (1/2).

Dalam penggeledahan itu kata Ali, tim penyidik menemukan dan mengamankan berbagai bukti. Yaitu, dua unit mobil, dan dokumen-dokumen terkait aliran sejumlah uang yang diduga dinikmati oleh tersangka Tagop dkk.

"Bukti-bukti ini masih akan dianalisa kembali dan disita untuk melengkapi berkas perkara," pungkas Ali.

KPK telah mengumumkan telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus dugaan suap, gratifikasi dan TPPU pada Rabu (26/1).

Ketiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka yaitu, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS) selaku Bupati Buru Selatan periode 2011-2016 dan periode 2016-2021; Johny Rynhard Kasman (JRK) selaku swasta; dan Ivana Kwelju (IK) selaku swasta.

Namun demikian, KPK baru resmi menahan tersangka Tagop dan Johny. Sedangkan Ivana diultimatum untuk kooperatif hadir memenuhi panggilan penyidik KPK.

Dalam perkara ini, Bupati Tagop sejak awal menjabat telah memberikan atensi lebih untuk berbagai proyek pada Dinas PUPR Pemkab Buru Selatan, di antaranya dengan mengundang secara khusus Kepala Dinas dan Kabid Bina Marga untuk mengetahui daftar dan nilai anggaran paket setiap pekerjaan proyek.

Atas informasi tersebut, tersangka Tagop kemudian merekomendasikan dan menentukan secara sepihak pihak rekanan mana saja yang bisa dimenangkan untuk mengerjakan proyek baik yang melalui proses lelang maupun penunjukan langsung.

Dari penentuan para rekanan ini, diduga tersangka Tagop meminta sejumlah uang dalam bentuk fee dengan nilai 7 hingga 10 persen dari nilai kontrak pekerjaan.

Khusus untuk proyek yang sumber dananya dari Dana Alokasi Khusus (DAK) ditentukan besaran fee masih di antara 7 hingga 10 persen ditambah 8 persen dari nilai kontrak pekerjaan.

Adapun proyek-proyek tersebut di antaranya, pembangunan jalan dalam kota Namrole tahun 2015 dengan nilai proyek sebesar Rp 3,1 miliar; peningkatan jalan dalam kota Namrole (hotmix) dengan nilai proyek Rp 14,2 miliar; peningkatan jalan ruas Wamsisi-Sp Namrole Modan Mohe (hotmix) dengan nilai proyek 14,2 miliar; dan peningkatan jalan ruas Waemulang-Biloro dengan nilai proyek Rp 21,4 miliar.

Atas penerimaan sejumlah fee tersebut, tersangka Tagop diduga menggunakan orang kepercayaannya yaitu tersangka Johny untuk menerima sejumlah uang menggunakan rekening bank miliknya dan untuk berikutnya ditransfer ke rekening bank milik tersangka Tagop.

Nilai fee proyek yang diduga diterima oleh tersangka Tagop sekitar Rp 10 miliar yang di antaranya diberikan oleh tersangka Ivana karena dipilih untuk mengerjakan salah satu proyek pekerjaan yang anggarannya bersumber dari DAK tahun 2015.

Penerimaan yang Rp 10 miliar dimaksud diduga tersangka Tagop membeli sejumlah aset dengan menggunakan nama pihak-pihak lain dengan maksud untuk menyamarkan asal usul uang yang diterima dari para rekanan kontraktor.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA