Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Minyak Goreng Langka dan Mahal Gara-gara Negara Dipimpin Pedagang

LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
  • Minggu, 20 Maret 2022, 12:21 WIB
Minyak Goreng Langka dan Mahal Gara-gara Negara Dipimpin Pedagang
Aktivis senior Syahganda Nainggolan/Net
Bangsa Indonesia saat ini sudah dikelola oleh pedagang. Akibatnya, kelangkaan minyak goreng tak terkendali hingga tiga bulan lamanya.

Begitu kata aktivis senior Syahganda Nainggolan dalam video wawancara yang diunggah di akun YouTube Realita TV pada Sabtu malam (19/3).

Adapun pedagang yang dimaksud Syahganda adalah Presiden Joko Widodo, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pariwisatan dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dan lainnya.

Dalam video ini, Syahganda menjelaskan bahwa sejak Indonesia merdeka, kelangkaan minyak goreng paling lama baru terjadi di Joko Widodo. Di era B. J. Habibie, minyak goreng juga sempat menghilang. Tapi hanya sepekan dan tidak berbulan-bulan.

Di satu sisi, Syahganda juga membandingkan Indonesia dengan negara tetangga, Malaysia. Di mana harga minyak dijual jauh lebih murah di sana.

“Karena di sana itu negara itu dikelola oleh rakyat," ujar Syahganda seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (20/3).

Sedangkan Indonesia, kata Syahganda, dikelola oleh pedagang. Yakni dikelola oleh pemimpin yang berasal dari pedagang sebelum dan saat menjadi pejabat tinggi di Indonesia.

"Jokowi sendiri sebagai pedagang meubel, Lutfi sebagai pedagang macam-macam, Sandiaga Uno pedagang, Erick Thohir pedagang, semua pedagang yang berkuasa, Luhut Pandjaitan pedagang," kata Syahganda.

Sehingga, sesama pedagang tidak boleh saling mengganggu dan mengatur-atur yang mengakibatkan harga minyak goreng di Indonesia tak terkendali.

“Orang-orang minyak goreng ini bilang, 'eh lu kan kita sama-sama pedagang, cincay lah, mana bisa lu atur-atur gue'. Tidak bisa atur-atur itu. Karena apa, karena sesama pedagang ada kode etik, sesama bis kota tidak boleh saling mendahului," jelas Syahganda.

Sedangkan para pedagang yang ingin bermain-main harga bahan pokok, kata Syahganda, tidak berani bertingkah di zaman Habibie maupun di zaman Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Dengan demikian kata Syahganda, jika negara dikelola oleh pedagang, maka rakyat dipastikan sengsara. Sebaliknya, jika Indonesia dikelola oleh rakyat atau kaum buruh, maka rakyat yang bahagia.

"Nah sekarang silakan aja, ke depan ini setelah Jokowi masih mau pilih kaum pedagang yang pasti bukan hanya minyak goreng, besok gula, kemudian gas, kemudian macam-macam (harga naik), apalagi ini mau perang dunia ketiga, ini hilang tidak terkendali," pungkas Syahganda.

ARTIKEL LAINNYA