Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

FGD Nasdem Cari Jalan Keluar dari Ancaman Krisis Pangan Dunia

LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Rabu, 08 Juni 2022, 21:59 WIB
FGD Nasdem Cari Jalan Keluar dari Ancaman Krisis Pangan Dunia
Focus Group Discussion (FGD) pra Rakernas di Ballroom Nasdem Tower, Jakarta Pusat, Rabu (8/6)/RMOL
Kondisi geopolitik dunia sedang tidak normal dan membawa efek domino maha dahsyat. Situasi tersebut ikut memukul ketahanan pangan dan energi dunia tak terkecuali kondisi dalam negeri yang baru saja membaik paska diterpa krisis pandemi.

Dalam rangka menyambut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Partai Nasdem Tahun 2022 pada 15-17 Juni 2022 mendatang, Bidang Kebijakan Publik dan Isu Strategis DPP Nasdem mengadakan Focus Group Discussion (FGD) pra Rakernas menyoroti perkembangan ekonomi, pangan, dan geopolitik serta geostrategi dunia yang terjadi saat ini terhadap Indonesia.

FGD berlangsung di Ballroom Nasdem Tower, Jakarta Pusat, Rabu (8/6) dan dimoderatori Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Martin Manurung. FGD kali ini menghadirkan Gubernur Lemhanas RI, Andi Widjajanto, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Febrio Nathan Kacaribu, Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid, Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia, Fransiscus Welirang, dan Akademisi Pertanian, Bustanul Arifin sebagai narasumber.

Hadir pula Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Ukay Karyadi, Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional, Rizal E Halim, Ketua Kelompok Fraksi NasDem Komisi XI DPR RI, Fauzi H. Amro, dan Anggota Komisi IV DPR RI, Yessy Melania sebagai penanggap.

FGD bertajuk "Perkembangan Ekonomi, Pangan dan Geopolitik Dunia" itu berlangsung menarik dengan mengupas bagaimana peluang dan tantangan yang dihadapi dunia terutama Indonesia pada hari ini hingga masa depan.

"Dalam bidang ketahanan pangan sudah kita lihat bahwa perjalanan sejarah menunjukkan 70 tahun yang lalu saat peletakan batu pertama pendirian fakultas pertanian yang menjadi IPB saat ini Bung Karno mengingatkan persoalan pangan adalah persoalan hidup dan matinya suatu bangsa," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam sambutan pembukanya.

Kondisi tersebut menurut dia menuntut semua pihak agar tidak sekadar berbicara dalam berjuang mewujudkan tantangan tetapi penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan yang tercermin dari adanya ketersediaan bahan pangan yang cukup dengan berbagai cara bagi masyarakat.

"Bicara ketahanan pangan banyak sekali masalah yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan satu sama lain. Kita juga berbicara lahan pertanian produktif yang terus menyusut kemudian bagaimana berkurangnya jumlah tanah persawahan, alih fungsinya tanah persawahan dan masih banyak lagi hal-hal yang perlu menjadi perhatian kita semua," ujarnya.

Lebih jauh Lestari Moerdijat memaparkan dalam situasi geopolitik dunia tentu menjadi bagian tak terpisahkan dalam membahas ketahanan pangan.  Dalam konteks Rusia dan Ukraina dia pun mengingatkan komitmen dan prinsip nonblok Indonesia dalam upaya mengakhiri perang demi kemanusiaan apalagi saat ini kita juga masih bergantung dari beberapa komoditi yang berasal dari negara-negara tersebut.

Dengan hadirnya berbagai pakar sebagai pembicara dia berharap FGD kali ini yang juga berlangsung secara hybrid itu dapat menghasilkan pendasaran ilmiah dan faktual terkait perkembangan terkini yang bersumber dari semua permasalahan yang sedang dihadapi.

"Dari sinilah nanti kita harapkan mudah-mudahan kita dapat memetik setiap pemikiran untuk merangkum sebuah langkah strategis dan dapat menyampaikannya kepada para pengambil kebijakan untuk mengambil keputusan dan memperkaya politik gagasan yang menjadi nadi perjuangan," katanya.

Perempuan yang karib disapa Rerie itu menambahkan, kekayaan paradigma berpikir pada kegiatan FGD kali ini menjadi cermin untuk terus bekerja buat masyarakat Indonesia. Sebab dalam berbagai situasi kerja-kerja politik harus dilakukan dengan hati dan penuh kasih serta berpijak teguh pada nilai-nilai kebangsaan.

"Jalan restorasi menuju Indonesia maju adalah landasan kerja dan implementasi Restorasi Indonesia dalam berbagai sektor kehidupan bangsa Indonesia," demikian Rerie.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), menuturkan, bangsa Indonesia harus membangun sebuah strategi baru untuk menghadapi berbagai ancaman yang mungkin terjadi. Yang terpenting, menurut SYL, Indonesia juga perlu untuk terus mempertahankan dan meningkatkan produktivitas.

“Kita pertahankan kita dengan produktivitas yang ada sekarang dengan berbagai koreksi penting menjadi catatan. Kemudian kita coba membangun strategi baru untuk menghadapi climate change yang ada dan memang krisis pangan yang bisa saja kita hadapi,” ucap SYL.

Akademisi Pertanian Bustanul Arifin, memaparkan, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk menghadapi ancaman krisis pangan. Diantaranya bisa dimulai dari level hulu, yakni mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pupuk dan mendorong para pelaku usaha bergerak bersama petani .

"Yang harus kita pecahkan pak gubernur juga dalam jangka pendek jangka menengah penajaman subsidi pupuk karena itu immediate untuk menanggulangi dampak kenaikan harga agar inflasi produsennya tidak kemana-mana,” kata Bustanul.

Langkah lain yakni memberikan pendampingan dan pemberdayaan petani. Termasuk memberikan penyuluhan yang masif kepada petani sehingga bisa menjadi garda terdepan dalam ketahanan pangan nasional.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA