Liga RMOL
Liga RMOL Mobile
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Soal Ancaman Resesi, Ekonom: Yang Harus Kita Waspadai China, Bukan Amerika

LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Selasa, 19 Juli 2022, 19:18 WIB
Soal Ancaman Resesi, Ekonom: Yang Harus Kita Waspadai China, Bukan Amerika
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira/Repro
Ancaman resesi ekonomi tengah menghantui puluhan negara di dunia akibat ketidakpastian global. Hal ini, merujuk data International Monetary Fund (IMF) yang menyebut ada 60 negara yang perekonomiannya diperkirakan akan ambruk, dan 42 di antaranya dipastikan sudah menuju ambruk.

Soal itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, ancaman resesi tahun 2022 ini bisa menjadi benar, tetapi bukan berasal dari Amerika. Hanya saja, tetap akan berdampak terhadap perekonomian nasional Indonesia.

Sebab, resesi ekonomi yang diperkirakan terjadi secara global tidak lain karena Amerika saat ini resesinya berdasarkan laporan Federal Reserve Atlanta, bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika di kuartal kedua diperkirakan minus 2,1 persen year on year.

“Berarti ini situasinya bukan hanya Amerika, tapi semua negara sekarang ini dalam ancaman resesi,” kata Bhima dalam serial diskusi Teras Politik Kantor Berita Politik RMOL bertajuk “Peringatan IMF dan Antisipasi Kebangkrutan Indonesia” pada Selasa sore (19/7).

Oleh karena itu, Bhima mewanti-wanti pemerintah untuk tidak menganggap remeh ancaman resesi tahun 2022 ini. Pasalnya, resesi kali ini berbeda dengan krisis tahun 1998 dan 2008.

Menurutnya, Indonesia tahun 1997 dijuluki sebagai The Tiger of Asia atau Macan Asia bersama dengan Korea Selatan, hingga Thailand. Kondisi itupah yang membuat Indonesia lupa terhadap fundamental ekonomi nasional yang belum diketahui kuat atau tidak dalam menghadapi guncangan.

Juga tidak bisa menggap remeh resesi yang terjadi di Sri Lanka tidak akan terjadi di Indoensia karena berbeda secara fundamental ekonomi dan tingginya angka resesi, karena probabilitas Indonesia terhadap resesi hanya 3 persen sedangkan Sri Lanka 85 persen.

“Itu bisa membuat kita mabuk. Makanya kita tidak bisa menyepelekan situasi sekarang ini kita lebih aman dari 98, kita lebih aman dari 2008. Nah yang saya khawatirkan puja-puji banyak sekali lembaga internasional seperti IMF,” tegas Bhima.

Namun di sisi lain, Bhima justru khawatir dengan Indonesia bukan karena Amerika Serikat atau perang Rusia-Ukraina, tapi dengan China. Pasalnya, 30 persen dari total ekspor atau perdagangan Indonesia ini urusannya dengan China, dengan hanya 11 persen yang ke Amerika Serikat.

“China ini enggak jelas dia lockdown berkali-kali, mengejar banyak barang dari China ke Indonesia, impor bahan baku, barang jadi, barang konsumsi ini semuanya di delay macet,” ungkapnya.

“Jadi, resesinya mungkin nanti kalaupun Indonesia semoga tidak terjadi, tapi kalau Indonesia resesi atau transmisi resesi yang paling berbahaya adalah dari China dibandingkan dengan Ukraina dan Amerika serikat,” demikian Bhima.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA