Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Sesalkan Tragedi Kanjuruhan, Adhie Massardi: Padahal Sepak Bola Sudah Jadi Tontonan Keluarga

LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
  • Rabu, 05 Oktober 2022, 11:54 WIB
Sesalkan Tragedi Kanjuruhan, Adhie Massardi: Padahal Sepak Bola Sudah Jadi Tontonan Keluarga
Koordinator Gerakan Indonesia Bersih, Adhie M. Massardi/Net
Sepak bola kini sebenarnya sudah merupakan tontonan keluarga yang tidak hanya dinikmati kaum laki-laki, melainkan juga disukai oleh perempuan, maupun anak-anak. Untuk itu, pihak panitia, PSSI, maupun aparat keamanan harus mengikuti prosedur sesuai dengan aturan FIFA.

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih, Adhie M. Massardi mengatakan, dirinya merasa terkejut dengan adanya tragedi di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada Sabtu malam (1/10).

Baginya hal yang mustahil kerusuhan sepak bola bisa terjadi sampai merenggut nyawa hingga ratusan. Sebab, saat ini penonton sepak bola Indonesia ini sudah bagus dan tertib.

“Mereka happy dengan nonton-nonton itu dengan berbagai atribut dengan kostum-kostum sesuai dengan tim kesayangannya. Dan hampir saya tidak pernah mendengar keributan-keributan seperti di masa lalu ya," ujar Adhie saat berbincang dengan wartawan senior Hersubeno Arief di kanal YouTube Hersubeno Point berjudul "Jahat Banget! Suporter Sudah Meninggal, Masih Difitnah Pula", Selasa (4/10).

Adhie lantas bercerita pada saat dirinya menjadi tim produksi di stasiun televisi swasta dalam menyiarkan secara langsung Liga Indonesia pada 25 tahun yang lalu. Pada saat itu, sepakbola Indonesia mau digalakkan kembali.

"Nah saya sama teman-teman kemudian mengkaji, bagaimana sih mengakrabkan sepakbola, karena waktu itu sepakbola tuh dianggap tontonan yang rusuh, orang tidak mau menontonnya," kata Adhie.

Adhie pun mempelajari bagaimana sepakbola Inggris membenahi sepak bolanya yang pernah dihukum bertahun-tahun oleh FIFA. Kuncinya kata Adhi, ada di tayangan televisi.

"Jadi kalau kita nonton sepakbola, kemudian ditayangkan di-closeup anak-anak kemudian perempuan, kemudian remaja-remaja yang happy-happy, keluarga, itu untuk melatih atau mengedukasi penonton di rumah di seantero Eropa bahwa sepakbola itu adalah tontonan keluarga," jelas Adhie.

Untuk itu, Adhie mengaku memberikan instruksi kepada kameraman untuk tidak merekam atau mengambil gambar orang-orang yang sangar yang ada di stadion.

"Itu untuk mengingatkan juga kalau kita nonton juga kebayang bahwa di stadion itu ada anak-anak, ada perempuan. Itu sebabnya kaya di Eropa kita sering nonton ada perempuan-perempuan cantik, itu di desain mula-mulai didesain, kemudian ketika menjadi akrab bahwa nonton sepak bola tuh tidak masalah, mereka senang membawa anak-anaknya, membawa perempuannya," terang Adhie.

Cara itu ditiru di Indonesia dan berhasil. Bahkan, pada sekitar tahun 1990-an, banyak orang tua yang mengantarkan anak-anak ke sekolah sepak bola.

"Karena sepak bola bukan lagi tontonan yang sangar, sudah menjadi tontonan keluarga," katanya.

Bahkan kata Adhie, dengan ditampilkan gambar-gambar adanya anak-anak, perempuan, tokoh-tokoh, dapat meredam emosi orang yang ada di stadion.

"Makanya ketika anak-anak itu yang ada kakaknya bawa adiknya (saat tragedi Kanjuruhan), diizinkan oleh orang tuanya karena tontonan sepakbola itu sudah menjadi tontonan keluarga, happy," kata Adhie.

"Jadi ketika orang menyalahkan bahwa ini penonton yang rusuh, saya langsung menyangkal bahwa tidak mungkin ada kerusuhan di penonton. Apalagi kan di situ memang tidak ada konflik suporter karena penonton Persebaya nggak ada di situ," sambung Adhie.

ARTIKEL LAINNYA