Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

KPU Bantah Metode Sampling yang Dipakai di Verfak Peserta Pemilu 2024 Lebih Berat

LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Senin, 14 November 2022, 19:40 WIB
KPU Bantah Metode Sampling yang Dipakai di Verfak Peserta Pemilu 2024 Lebih Berat
Anggota KPU RI yang mengepalai Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu, Idham Holik/Net
Metode sampling krejcie dan morgan yang diberlakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk melakukan verifikasi faktual kepada sejumlah partai politik calon peserta Pemilu Serentak 2024 yang belum memenuhi parliamentary threshold (PT) dan yang baru dipastikan tidak memberatkan.

Hal tersebut ditegaskan anggota KPU RI yang mengepalai Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu, Idham Holik, kepada wartawan, Senin (14/11).

Dijelaskan Idham, metode sampling krejcie dan morgan menjadi satu upaya pembuktian publik sesuai dengan amanah UU 7/2017 tentang Pemilu.

Pasalnya, dengan menggunakan metode tersebut bisa diketahui berapa banyak jumlah sampel yang haus dilakukan verfak dari total populasi penduduk yang terdata sebagai jumlah anggota parpol bersangkutan.

Sementara metode yang digunakan KPU pada pemilihan sebelumnya, metode yang digunakan simple sampling yang pada intinya melakukan pengambilan sampel secara acak dengan jumlah 10 persen dari total jumlah keanggotaan.

"Saya pikir tidak benar yang demikian (bahwa metode krejcie dan morgan memberatkan parpol)," ujar Idham saat dikonfirmasi wartawan, Senin (14/11).

Idham menegaskan, sampel yang diambil dengan metode krejcie dan morgan ini sangat bergantung pada jumlah keanggotaan parpol yang diserahkan, atau jauh berbeda dengan metode yang digunakan pada Pemilu Serentak 2019 lalu yaitu sample sampling.

"Semakin banyak anggota yang diserahkan maka dia semakin sedikit sampel yang diverifikasi faktual," urai mantan Anggota KPU Provinsi Jawa Barat ini.

"Nanti bisa melakukan simulasi antara data yangg diserahkan minimal 1.000 dengan 2.000 itu beda. Jadi yang 2.000 lebih sedikit. itu dalam metode krejcie morgan," tambahnya menegaskan.

Di samping itu, Idham justru melihat adanya keuntungan bisa diperoleh parpol jika data keanggotaan yang diserdahkan ke KPU tidak memenuhi syarat (TMS).

"Dahulu itu, dalam pelaksanaan verfak kalau satu (data keanggotaan parpol) salah harus diganti 10. Sekarang, ketika ada yang salah (satu data keanggotaan parpol), gantinya cukup satu," demikian Idham menambahkan.

Anggapan metode krejcie dan morgan terlalu berat diterapkan parpol calon peserta Pemilu Serentak 2024 yang mengikuti tahapan verifikasi faktual sempat disampaikan Partai Perindo.

Sekjen Partai Perindo, Ahmad Rofiq menyampaikan, penerapan metode krejcie dan morgan malah menambah berat pekerjaan parpol. Sebab, dengan penerapan metode simple sampling saja parpol sudah sulit untuk lolos tahapan verfak dan lolos menjadi peserta pemilu.