Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Bhinneka Tunggal Ika, Ternyata Mirip dengan Pemikiran Keberagaman di China

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-kiflan-wakik-1'>AHMAD KIFLAN WAKIK</a>
LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK
  • Senin, 06 Februari 2023, 17:23 WIB
Bhinneka Tunggal Ika, Ternyata Mirip dengan Pemikiran Keberagaman di China
Perayaan Cap Go Meh dengan tema "Persatuan Indonesia untuk Indonesia Raya dengan Jiwa Gotong Royong Penuh Harapan", yang digelar DPC Tanura Merah Putih (TMP) Jakarta Utara/Ist
rmol news logo Ada banyak kemiripan di anatara Indonesia dan China. Salah satunya terkait mencari persamaan di tengah keragaman sosial masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Penulis Buku "Ada Apa dengan China", Novi Basuki di acara Perayaan Cap Go Meh dengan tema "Persatuan Indonesia untuk Indonesia Raya dengan Jiwa Gotong Royong Penuh Harapan", yang digelar DPC Tanura Merah Putih (TMP) Jakarta Utara, Minggu malam (5/1).

"Di China ada suatu pemikiran yang artinya kita harus cari persamaan, di waktu yang sama tapi mempertahankan keragaman. Di Indonesia ini ada Bhinneka Tunggal Ika, semangat gotong royong yang diajarkan Bung Karno," ujar Novi Basuki.

Novi yang menuntaskan pendidian dari S1 hingga S3 di China, mengaku pernah mempunyai pengalaman saat bercerita tentang kisah sukses orang China yang memulai usahanya dari nol, hingga menjadi konglomerat di akun media sosialnya. Namun, cerita dia, mendapat komentar negatif dari salah satu warganet.

"Ada yang berkomentar 'Orang China itu memang berusaha dari nol dan mengubah nasibnya untuk bisa sejahtera. Tapi ada satu kekurangan, orang China tidak mau turun ke bawah'," tuturnya.

"Wah, dapat komentar itu, lalu saya balas, 'bapak mungkin kurang memperhatikan bahwa sudah banyak pengusaha Tionghoa turun ke bawah tapi mungkin tidak terlihat dan tidak mau terlihat," sambungnya..

Dari peristiwa itu, dirinya mengajak masyarakat etnis Tionghoa, tidak sekadar menyalurkan bantuan tanpa hadir dan melihat langusng keadaan warga yang dibantunya.

"Orangnya juga harus turun ke bawah. Jadi ada istilah di Mandarin bahwa mendengar 100 kali, keakuratannya itu kalah walaupun melihat hanya satu kali saja," katanya.

Sementara Sekretaris DPC Taruna Merah Putih Jakarta Utara Niko Atmaja, sekaligus ketua panitia Perayaan Cap Go Meh, mengatakan dirinya berharap acara yang diselenggarakan bisa mempererat persatuan dan persaudaraan.

"Harapan saya enggak muluk-muluk, saya ingin teman-teman merasakan persatuan dan persaudaraan itu bisa muncul kapan saja. Selain perayaan Cap Go Meh, kita juga memperingati hari lahir Ibu Fatmawati, istri dari Bung Karno," katanya.

"Mudah-mudahan harapan kami dari PDI Perjungan juga dari Taruna Merah Putih, bapak ibu bisa bergotong-royong bersama kami membangun Indonesia lebih baik lagi ke depannya," pungkasnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA